Kupas Abis – Halo sobat Kupas Abis! Pernah gak sih kamu ngerasa hampa banget setelah menghabiskan waktu 3 jam cuma buat scrolling TikTok atau Reels? Badan rasanya capek, otak rasanya “berkabut” (brain fog), dan motivasi buat ngerjain hal lain tuh nol besar. Kalau kamu sering ngerasain ini, selamat, kamu resmi kena gejala yang namanya Brain Rot.
Di tahun 2025 ini, di mana algoritma medsos makin agresif menyedot perhatian kita, muncul sebuah perlawanan yang viral dan—syukurnya—sangat positif. Namanya adalah Tren Dopamine Menu. Berbeda dengan tren Dopamine Detox yang menyiksa karena kita harus puasa gadget total, tren menu dopamin ini justru mengajak kita untuk “kenyang” dengan cara yang sehat.
Banyak psikolog dan kreator konten yang menyebut Tren Dopamine Menu sebagai game changer buat kesehatan mental Gen Z dan Millennial. Konsepnya sederhana: perlakukan otakmu seperti perutmu. Jangan cuma dikasih “junk food” digital, tapi kasih juga “makanan bergizi” yang bikin bahagia beneran. Penasaran gimana cara bikinnya? Yuk, kita bedah tuntas fenomena ini!
📊 Fakta Singkat: Fenomena Dopamine Menu
| Data & Fakta | Keterangan |
| Definisi Utama | Daftar aktivitas yang disiapkan (seperti menu restoran) untuk memberikan stimulasi dopamin yang sehat saat kita bosan/butuh hiburan. |
| Asal Tren | Viral di TikTok (Istilah dipopulerkan oleh Jessica McCabe dari “How to ADHD”). |
| Masalah yang Diatasi | Doom Scrolling, Brain Rot, Kesulitan fokus, dan kelelahan mental. |
| Target Audiens | Orang dengan ADHD, Gen Z, Pekerja Kreatif, dan pecandu gadget. |
| Filosofi | Mengganti “Cheap Dopamine” (Instan tapi kosong) dengan “Good Dopamine” (Butuh usaha tapi memuaskan). |

🧠 Analisa Mendalam: Kenapa Otak Kita Butuh “Menu” Ini?
Mari kita bahas secara mendalam kenapa tren ini bisa meledak dan kenapa kamu WAJIB mencobanya.
1. Jebakan “Cheap Dopamine” vs “Good Dopamine”
Otak manusia itu pada dasarnya pemalas tapi haus kepuasan. Ketika kita scroll medsos, otak kita dapet suntikan dopamin instan (Cheap Dopamine). Rasanya enak, tapi cepat hilang, bikin kita nagih buat scroll lagi dan lagi. Ini persis kayak makan keripik micin: enak di lidah tapi gak bikin kenyang, malah bikin sakit perut.
Nah, Tren Dopamine Menu hadir untuk menawarkan alternatif. Aktivitas seperti membaca buku, jalan kaki sore, atau menyeduh kopi manual itu menghasilkan Good Dopamine. Efeknya lebih lambat muncul (karena butuh usaha), tapi memberikan rasa puas yang bertahan lama (fulfillment). Masalahnya, saat kita bosan, otak otomatis nyari yang gampang (HP). Dengan membuat “Menu” fisik, kita memutus siklus otomatis itu dan sadar bahwa kita punya pilihan lain yang lebih enak.
2. Struktur Menu Restoran: Psikologi di Balik Pilihan
Yang bikin tren ini jenius adalah formatnya. Kita gak disuruh bikin “To-Do List” (yang kesannya beban kerja), tapi bikin “Menu Makanan”. Secara psikologis, ini terasa seperti reward, bukan hukuman. Biasanya, Dopamine Menu dibagi menjadi 4 kategori selayaknya di restoran:
- Appetizers (Menu Pembuka): Aktivitas cepat (5-10 menit) buat naikin mood instan. Contoh: Elus kucing, minum segelas air dingin, stretching, joget satu lagu.
- Main Course (Menu Utama): Aktivitas inti yang butuh waktu lama tapi bikin hati penuh. Contoh: Masak makan malam, nge-gym, baca novel 3 bab, journaling, ngerakit Gunpla/Lego.
- Sides (Menu Pendamping): Hal yang bisa dilakukan sambil ngerjain hal membosankan. Contoh: Dengerin podcast true crime sambil nyuci piring, dengerin lagu sambil lipat baju.
- Dessert (Makanan Penutup): Ini adalah Guilty Pleasure yang boleh dinikmati tapi DIKIT AJA. Contoh: Scroll TikTok, nonton Netflix, main game gacha. Ingat, dessert dimakan setelah main course, bukan jadi makanan pokok!
3. Mengembalikan Kendali Diri (Autonomy)
Sering gak sih kamu sadar-sadar udah jam 12 malam padahal niatnya cuma cek HP 5 menit? Itu tandanya kamu kehilangan kendali. Dengan menuliskan Dopamine Menu dan menempelnya di kulkas atau meja kerja, kamu mengambil alih setir kemudi otakmu. Saat bosan menyerang, alih-alih tangan otomatis ngambil HP, mata kamu bakal liat menu itu: “Oh, gue bosen. Gue bisa pilih ‘Appetizer’ nyiram tanaman dulu deh.”
Pergeseran kecil dari pasif (mengonsumsi konten) menjadi aktif (melakukan kegiatan) inilah yang menyembuhkan Brain Rot secara perlahan.
⚠️ Dampak Jangka Panjang: Apakah Cuma Tren Sesaat?
Kupas Abis melihat ini punya potensi bertahan lama, bukan sekadar tren viral yang lewat. Kenapa? Karena ini adalah respon alami manusia terhadap kejenuhan digital.
Di tahun 2026 nanti, diprediksi kemampuan untuk “bosan” dan “melakukan hal lambat” (seperti bengong atau baca buku fisik) akan menjadi skill mahal. Orang-orang yang menerapkan Dopamine Menu akan punya rentang fokus (attention span) yang jauh lebih baik daripada mereka yang membiarkan otaknya diperkosa algoritma setiap hari. Dampak ekonominya? Produktivitas naik, kecemasan turun, dan kualitas tidur membaik drastis.
💬 Apa Kata Netizen yang Udah Coba?
“Awalnya aneh nulis menu ginian. Tapi pas gue lagi bengong dan hampir buka IG, gue liat menu ‘Main Course’ gue: Main gitar. Akhirnya gue main gitar 30 menit dan rasanya PUAS banget. Jauh lebih hepi daripada scrolling fyp orang pamer harta.” – Dimas (24), Graphic Designer
“Dessert gue itu nonton Drakor. Gue janji ke diri sendiri cuma boleh nonton kalau udah selesai ‘Main Course’ bersihin kamar. Kamar rapi, nonton pun tenang. Dopamine Menu is real!” – Siska (28), Karyawan Swasta
Kesimpulan & Opini Kupas Abis
Tren Dopamine Menu adalah salah satu tren self-care terbaik yang muncul dari TikTok. Ini bukan soal melarang diri main HP, tapi soal menyeimbangkan diet otak.
Kalau kamu sayang sama kesehatan mentalmu, berhentilah memberi makan otakmu dengan “sampah”. Mulai hari ini, ambil kertas, spidol warna-warni, dan tulislah menumu sendiri. Jadikan hidupmu lebih “lezat” dengan aktivitas yang bermakna.
Rating Tren:
⭐ 9.5/10 (Sangat Direkomendasikan! Murah, Mudah, dan Efektif).
