Sunday, February 15, 2026
Google search engine
HomeTrending TopicHati-Hati Travel Burnout! Niat Healing Malah Pusing, Tanda Kamu Cuma Korban FOMO...

Hati-Hati Travel Burnout! Niat Healing Malah Pusing, Tanda Kamu Cuma Korban FOMO Liburan?

Kupas AbisHalo sobat Kupas Abis! Lihat kalender, udah tanggal 20 Desember 2025 nih. Timeline Instagram dan TikTok pasti udah penuh sama teman-teman kamu yang pamer tiket pesawat ke Jepang, foto salju di Eropa, atau minimal staycation estetik di Bali. Terus kamu ngaca, melihat saldo rekening, dan ngerasa: “Duh, kok gue di rumah doang ya? Apa gue harus berangkat juga biar gak kelihatan menyedihkan?”

Tahan dulu kawan! Sebelum kamu nekat gesek kartu kredit atau Paylater buat beli tiket pesawat yang harganya lagi gila-gilaan, kamu perlu kenalan sama musuh dalam selimut para pelancong: Travel Burnout.

Banyak yang salah kaprah mengira liburan itu obat segala penyakit stres. Padahal, kalau dilakukan dengan alasan yang salah (baca: FOMO dan Konten), liburan justru bisa jadi sumber penyakit baru. Fenomena Travel Burnout di akhir tahun ini makin nyata, di mana orang pulang liburan bukannya segar, malah butuh “liburan dari liburan”. Kenapa niat healing malah jadi pusing? Yuk, kita kupas habis realitanya!

📊 Fakta Singkat: Fenomena Liburan Paksa

Indikator StresRealita Lapangan (Desember 2025)
Definisi UtamaKelelahan fisik & mental ekstrem yang terjadi saat atau setelah traveling.
Penyebab UtamaOverscheduling (Jadwal terlalu padat) & Ekspektasi visual medsos vs Realita.
Gejala FisikSakit kepala, gangguan pencernaan, mudah marah, insomnia di hotel.
Korban TerbanyakGen Z & Millennial (Content Creator mindset).
IroniMenghabiskan uang 3 bulan gaji untuk stres selama 5 hari.
travel burnout

🧠 Analisa Mendalam: Kenapa Liburan Bisa Bikin Depresi?

Mari kita bedah psikologi di balik liburan akhir tahun yang seringkali toxic.

1. Kutukan “Itinerary from Hell” demi Konten

Coba cek rencana perjalanan kamu. Apakah isinya “Menikmati matahari terbenam dengan tenang” atau “Jam 07.00 di Spot A, Jam 09.00 harus lari ke Spot B, Jam 11.00 ganti baju buat foto di Spot C”?

Ini adalah resep utama Travel Burnout. Karena terobsesi ingin “memaksimalkan” uang tiket yang mahal, kita jadi serakah. Kita memperlakukan liburan seperti checklist pekerjaan. Harus foto di sini, harus makan di situ.

Otak kita dipaksa bekerja high-speed terus-menerus untuk navigasi, mengejar waktu, dan berpose. Padahal, tubuh kita sedang berteriak minta istirahat. Akibatnya? Momen liburan cuma dinikmati lewat layar kamera, bukan mata telanjang. Kamu ada di Paris, tapi jiwamu sibuk ngedit Reels.

2. Tekanan “Performative Happiness” (Bahagia Itu Tontonan)

Medsos menciptakan standar baru: Liburan itu harus terlihat estetik, bahagia, dan sempurna. Padahal realitanya? Bandara macet, koper hilang, anak nangis, kaki lecet jalan jauh, dan pasangan ngambek karena salah baca Google Maps.

Tekanan untuk terlihat bahagia di Instagram Story padahal aslinya lagi capek setengah mati itu menguras energi mental luar biasa. Ini namanya disonansi kognitif. Kamu senyum di kamera, tapi batinmu menyumpah serapah. Konflik batin inilah yang bikin pulang liburan rasanya hampa (empty), seolah-olah kamu baru saja selesai main sandiwara panjang.

3. Finansial “Boncos” Pasca Hura-Hura

Salah satu pemicu Travel Burnout yang paling jahat datangnya setelah liburan usai: Tagihan.

Di era 2025 ini, fitur Travel Now Pay Later makin gampang. Orang berangkat liburan bukan pakai uang tabungan, tapi pakai utang. Euforia liburan cuma bertahan 5 hari, tapi cicilannya bertahan 12 bulan. Stres finansial ini seringkali lebih parah daripada stres kerja yang ingin kamu hindari di awal. Niatnya healing dari burn out kerja, eh pulang malah tambah burn out karena harus kerja lebih keras buat bayar utang liburan. Lingkaran setan, bukan?

⚠️ Tanda Kamu Wajib Batalin (atau Ubah) Rencana Liburan

Jangan maksa berangkat kalau kamu merasakan gejala ini:

  • Dread (Rasa Takut): Saat mikirin packing atau perjalanan ke bandara, kamu bukan excited, tapi malah capek duluan dan berharap pesawatnya delay.
  • Fokus ke Foto: Tujuan utamamu cuma “biar ada postingan”, bukan karena beneran pengen lihat tempatnya.
  • Budget Maksa: Kamu harus pakai dana darurat atau utang konsumtif buat berangkat.

💬 Apa Kata Netizen?

“Tahun lalu gue maksa ke Jepang pas winter demi konten. Sumpah itu nyiksa banget, dingin, rame parah, kaki gempor. Foto sih bagus, tapi aslinya gue berantem mulu sama laki gue. Tahun ini gue di rumah aja deh, pesen GoFood.”Mbak_MantanFOMO

“Valid banget! Pulang liburan bukannya seger malah tipes seminggu. Emang paling bener tuh Staycation di kamar sendiri, AC dingin, Netflix, gak ada jam weker.”KaumRebahan2025

Kesimpulan & Opini Kupas Abis

Liburan itu kebutuhan tersier, bukan kewajiban sosial. Tidak pergi liburan akhir tahun itu GAK DOSA dan GAK MEMALUKAN.

Di tengah gempuran orang yang berlomba-lomba pamer tiket pesawat, jadilah kaum yang bangga dengan JOMO (Joy of Missing Out). Nikmati ketenangan kota Jakarta (atau kotamu) yang lengang saat ditinggal orang-orang pergi. Tidur nyenyak, hemat uang, dan mulai tahun 2026 dengan saldo rekening yang sehat dan mental yang waras.

Ingat, healing terbaik kadang bukan pergi jauh, tapi berdamai dengan keadaan di rumah sendiri.

Rekomendasi Kami:

Kalau emang capek, TIDUR AJA. Itu gratis dan pasti healing.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments

0

Subtotal