Kupas Abis – Halo sobat Kupas Abis! Masih ingat doktrin orang tua zaman dulu tentang “banyak anak banyak rezeki”? Di penghujung tahun 2025 ini, kalimat tersebut terdengar usang dan tidak lagi relevan. Indonesia kini menghadapi fenomena demografi serius di mana faktor utama penyebab angka kelahiran turun drastis bukan hanya sekadar tren gaya hidup childfree, melainkan sebuah respons logis terhadap tekanan ekonomi yang makin gila. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Total Fertility Rate (TFR) kita terus merosot mendekati angka 2,0, yang menandakan bahwa milenial dan Gen Z sedang melakukan “pemogokan” massal secara tidak sadar untuk memiliki keturunan.
Fenomena yang sering disebut sebagai “Resesi Seks” ini sebenarnya sudah lama terjadi di negara maju seperti Jepang atau Korea Selatan, namun kini mulai menjangkiti negara berkembang seperti Indonesia. Banyak pasangan muda yang memutuskan menunda momongan, atau bahkan memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali secara permanen. Pertanyaan besarnya adalah, mengapa paradigma ini berubah begitu cepat dalam satu dekade terakhir? Apakah ini bentuk keegoisan generasi muda, atau justru bentuk tanggung jawab tertinggi mereka terhadap realita kehidupan yang semakin keras? Mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik angka statistik yang mengkhawatirkan ini.
📊 Faktor Ekonomi: Penyebab Angka Kelahiran Turun Paling Utama
Jika kita harus menunjuk satu biang kerok utama, maka kondisi finansial adalah jawabannya. Membesarkan anak di tahun 2025 bukan lagi sekadar urusan “memberi makan”, tetapi menyangkut biaya pendidikan, kesehatan, dan gaya hidup yang standarnya sudah melambung tinggi. Inilah yang menjadi penyebab angka kelahiran turun yang paling dominan di kota-kota besar. Bagi kelas menengah, anak kini dianggap sebagai Luxury Goods atau “Barang Mewah”.
Biaya persalinan di rumah sakit swasta yang layak, biaya susu formula dan imunisasi, hingga biaya daycare (penitipan anak) karena suami-istri harus bekerja, semuanya memakan porsi besar dari pendapatan bulanan. Belum lagi inflasi pendidikan yang naik 10-15% per tahun membuat uang pangkal TK swasta saat ini setara dengan biaya kuliah satu dekade lalu. Pasangan muda dengan gaji gabungan Rp 15 juta—yang notabene sudah di atas rata-rata—akan merasa “sesak napas” jika harus membiayai satu anak dengan standar yang layak, apalagi dua anak. Logika matematika rumah tangga inilah yang memaksa mereka untuk realistis.
🥪 Trauma Generasi Sandwich dan Rantai Penderitaan
Selain faktor biaya langsung, beban psikologis dan tanggungan keluarga menjadi alasan kuat lainnya. Generasi Milenial akhir dan Gen Z awal saat ini adalah “Generasi Sandwich” yang paling tertekan dalam sejarah. Mereka terjepit di antara kewajiban membiayai orang tua yang tidak memiliki dana pensiun yang cukup, sekaligus harus membiayai kelangsungan hidup diri sendiri di tengah biaya hidup yang meroket.
Kondisi ini menciptakan trauma tersendiri. Banyak anak muda berpikir bahwa hidup mereka saja sudah sangat sulit dan penuh perjuangan, sehingga mereka enggan menghadirkan nyawa baru yang berpotensi ikut merasakan kesusahan yang sama. Bagi sebagian orang, keputusan untuk childfree adalah cara memutus rantai kemiskinan atau kesengsaraan keluarga. Mereka memilih berhenti di generasi mereka agar beban tidak berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah bentuk kasih sayang yang logis: tidak melahirkan anak ke dunia yang kejam jika orang tuanya belum mampu memberikan fasilitas terbaik.
🏠 Krisis Hunian: Tidak Ada Rumah, Tidak Ada Anak
Faktor infrastruktur dan hunian juga memegang peranan krusial. Harga properti di Jabodetabek dan kota penyangga lainnya pada tahun 2026 diprediksi semakin tak terjangkau bagi gaji UMR maupun kelas menengah nanggung. Banyak pasangan muda yang masih harus tinggal di kos-kosan sempit, kontrakan petak, atau menumpang di rumah mertua tanpa kepastian kapan bisa memiliki hunian sendiri.
Ketidakpastian tempat tinggal ini berkorelasi langsung dengan keputusan menunda momongan. Membayangkan membesarkan anak di lingkungan yang sempit, tidak kondusif, dan berpindah-pindah tentu bukan impian ideal bagi orang tua manapun. Selama krisis kepemilikan rumah (housing crisis) ini tidak teratasi, maka keinginan untuk membangun keluarga besar akan terus menyusut, karena rasa aman akan tempat tinggal (papan) adalah kebutuhan dasar sebelum memikirkan kebutuhan reproduksi.
📉 Dampak Jangka Panjang bagi Indonesia Emas 2045
Pemerintah sering mendengungkan visi “Indonesia Emas 2045” dengan mengandalkan Bonus Demografi. Namun, jika tren penurunan angka kelahiran ini tidak dimitigasi, kita justru bisa menghadapi “Bencana Demografi”. Indonesia berpotensi menjadi negara tua sebelum menjadi negara kaya, persis seperti yang ditakutkan banyak ekonom. Ketika populasi lansia mendominasi sementara jumlah anak muda produktif menyusut, beban negara untuk menanggung biaya kesehatan dan pensiun akan membengkak, sementara pembayar pajak semakin sedikit.
🏆 Opini Kupas Abis
Kesimpulannya, fenomena turunnya angka kelahiran bukanlah penyakit moral atau tanda lunturnya nilai keluarga, melainkan respons rasional manusia terhadap lingkungan ekonomi yang tidak mendukung. Jangan buru-buru menghakimi pasangan yang memilih jalan ini.
Jika negara ingin angka kelahiran kembali stabil, solusinya bukan dengan himbauan moral, melainkan intervensi kebijakan yang konkret: cuti melahirkan yang lebih panjang bagi ayah dan ibu, subsidi biaya pengasuhan anak, pendidikan murah, dan kemudahan akses kepemilikan rumah pertama. Selama “punya anak” masih identik dengan ancaman kemiskinan finansial, maka tren ini akan terus berlanjut.


