Kupas Abis – Halo sobat Kupas Abis! Di era media sosial yang serba cepat ini, pernahkah kamu mendengar istilah Bed Rotting? Tren yang sedang viral di TikTok dan media sosial lainnya ini merujuk pada aktivitas berdiam diri di kasur seharian penuh—bukan untuk tidur malam, melainkan untuk makan, menonton film, hingga scrolling media sosial tanpa henti. Bagi Generasi Z yang merasa lelah dengan tekanan pekerjaan atau kuliah (burnout), aktivitas ini sering dianggap sebagai bentuk self-healing atau istirahat yang wajar. Namun, para ahli kesehatan mulai membunyikan alarm tanda bahaya. Di balik kenyamanan selimut dan bantal empuk tersebut, terdapat berbagai dampak buruk bed rotting yang mengintai kesehatan fisik maupun mental kita jika dilakukan secara berlebihan dan terus-menerus. Apa yang awalnya terasa seperti istirahat, lama-kelamaan bisa berubah menjadi perangkap isolasi yang mematikan produktivitas dan kewarasan.
Fenomena ini sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap kelelahan kronis. Kita merasa perlu menarik diri dari dunia luar untuk mengisi ulang energi. Namun, masalah timbul ketika “istirahat” ini berubah menjadi gaya hidup pasif. Ketika kasur yang seharusnya menjadi tempat istirahat eksklusif malah berubah menjadi “kantor”, “meja makan”, dan “bioskop” sekaligus, otak kita akan mengalami kebingungan asosiasi yang serius. Alih-alih merasa segar (recharged) setelah seharian di kasur, kebanyakan pelaku bed rotting justru melaporkan perasaan semakin lelah, lesu, dan cemas. Mari kita bedah lebih dalam apa saja risiko medis dan psikologis di balik tren “membusuk” di kasur ini.
Analisis Medis: Apa Saja Dampak Buruk Bed Rotting Bagi Tubuh?
Secara fisik, tubuh manusia didesain untuk bergerak, bukan untuk berdiam diri dalam posisi horizontal selama 24 jam. Salah satu dampak buruk bed rotting yang paling cepat terasa adalah gangguan pada sistem pencernaan dan metabolisme. Ketika kita makan sambil tiduran atau minim aktivitas fisik, pergerakan usus akan melambat, menyebabkan risiko sembelit, gerd (asam lambung naik), dan penumpukan kalori yang berujung pada obesitas. Selain itu, kurangnya paparan sinar matahari dan sirkulasi udara segar dapat mengacaukan ritme sirkadian tubuh—jam biologis yang mengatur kapan kita harus bangun dan tidur. Akibatnya, pelaku bed rotting sering mengalami insomnia parah di malam hari karena tubuh mereka tidak “lelah” secara fisik, meskipun otak mereka lelah karena doomscrolling.
Lingkaran Setan Kesehatan Mental: Depresi dan Kecemasan
Lebih dari sekadar masalah fisik, bahaya terbesar dari tren ini menyerang sisi psikologis. Menghabiskan waktu berjam-jam sendirian di kamar dengan hanya ditemani layar ponsel dapat memicu perasaan kesepian dan isolasi sosial yang akut. Konten media sosial yang kita konsumsi saat bed rotting seringkali menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, yang secara tidak sadar memicu rasa insecure, FOMO (Fear of Missing Out), dan kecemasan berlebih. Bukannya menyembuhkan burnout, kebiasaan ini justru memperparah gejala depresi. Kita menjadi enggan berinteraksi dengan dunia nyata, kehilangan motivasi untuk melakukan hobi, dan terjebak dalam siklus kemalasan yang sulit diputus. Ini bukan lagi healing, ini adalah bentuk penghindaran masalah (escapism) yang tidak sehat.
Bagaimana Cara Berhenti dan Kembali Hidup Normal?
Kunci untuk menghindari dampak buruk bed rotting bukanlah dengan melarang istirahat total, melainkan dengan menerapkan “Kebersihan Tidur” (Sleep Hygiene) yang disiplin. Gunakan kasur hanya untuk tidur dan aktivitas intim, bukan untuk aktivitas lain. Jika kamu merasa lelah dan butuh istirahat, cobalah bentuk istirahat aktif seperti berjalan santai di taman, membaca buku di sofa, atau meditasi duduk. Batasi penggunaan gadget di tempat tidur, karena cahaya biru (blue light) dari layar adalah musuh utama kualitas tidurmu. Ingatlah bahwa istirahat yang berkualitas adalah istirahat yang membuatmu siap menghadapi hari esok dengan semangat, bukan yang membuatmu ingin bersembunyi dari dunia selamanya.
🏆 Opini Kupas Abis
Tren bed rotting adalah cerminan dari generasi yang kelelahan, namun solusinya bukanlah dengan menyerah pada kepasifan. Melakukan me-time di kasur sesekali di hari Minggu tentu sah-sah saja dan manusiawi. Namun, jika itu sudah menjadi rutinitas harianmu untuk lari dari tanggung jawab, maka kamu harus waspada. Jangan sampai niat hati ingin memulihkan mental, malah berujung merusak masa depan. Bangunlah, buka jendela kamarmu, hirup udara segar, dan sadarilah bahwa hidup yang sesungguhnya terjadi di luar sana, bukan di layar ponselmu.
Bagaimana menurutmu, Bos? Apakah kamu pernah terjebak dalam fase ‘bed rotting’ ini?
