Kupas Abis – Halo sobat Kupas Abis! Ngaku deh, siapa di sini yang laptopnya suka bunyi kipas kencang kayak pesawat jet cuma gara-gara buka 15 tab Google Chrome? Atau siapa yang sering ngerasa stres liat tumpukan tab di bagian atas layar yang makin lama makin kecil sampai logonya gak kelihatan?
Kalau kamu ngalamin itu, tandanya kamu terjebak di masa lalu.
Di tahun 2025 ini, cara kita berselancar di internet sudah berubah total berkat kedatangan “anak baru” yang super hype. Namanya Arc Browser. Dibuat oleh The Browser Company, aplikasi ini berani menantang dominasi Chrome, Edge, dan Safari dengan menawarkan sesuatu yang beda: Ketenangan Pikiran.
Banyak yang bilang Arc adalah “iPhone-nya dunia browser”—cantik, fluid, dan intuitif. Tapi apakah cuma modal tampang doang, atau beneran bisa bikin kerjaan makin sat-set? Yuk, kita buktikan dalam Review Arc Browser paling jujur dan mendalam ini!
💻 Informasi Software
| Spesifikasi | Detail |
| Nama Aplikasi | Arc Browser |
| Developer | The Browser Company of New York |
| Engine | Chromium (Kompatibel sama Ekstensi Chrome!) |
| Platform | macOS, Windows 11, iOS (Arc Search) |
| Harga | Gratis (Free) |
| Fitur Kunci | Vertical Tabs, Spaces, Split View, Boosts |
| Rating | ⭐ 4.7/5 |

🚀 Deep Dive: Revolusi Cara Internetan (Fitur Kunci)
Arc bukan sekadar Chrome ganti kulit. Dia merombak total User Interface (UI) browser yang udah gak berubah selama 20 tahun terakhir.
1. Vertical Tabs & Sidebar (Selamat Tinggal Tab Menumpuk)
Ini perubahan paling radikal. Kalau Chrome naruh tab di atas secara horizontal, Arc naruh semuanya di Sidebar Kiri secara vertikal.
Kenapa ini jenius? Karena layar laptop modern itu formatnya wide screen (lebar). Kalau tab ditaruh di kiri, kita punya ruang vertikal lebih luas buat baca website. Plus, judul tab-nya jadi kebaca jelas, gak cuma ikon doang.
Sidebar ini juga bisa disembunyikan (auto-hide). Jadi saat kamu baca artikel atau nonton YouTube, layarmu bener-bener bersih 100% konten (Full Screen immersive). Rasanya lega banget, Bos!
2. Spaces & Profiles: Pemisahan Kerja vs Kehidupan Pribadi
Sering gak sih tab kerjaan kecampur sama tab belanja online atau Netflix? Bikin pusing kan?
Di Arc, ada fitur Spaces. Kamu bisa bikin ruang terpisah: satu Space buat “Kantor” (isinya email, Slack, Notion), satu Space buat “Hiburan” (YouTube, Netflix, medsos). Tinggal swipe dua jari di trackpad, kamu pindah dari mode karyawan teladan ke mode kaum rebahan.
Setiap Space bisa punya Profile login beda. Jadi kamu bisa login Gmail kantor di Space A, dan Gmail pribadi di Space B tanpa harus Log Out atau pakai Incognito. Game changer!
3. Split View: Multitasking Tanpa Jendela Baru
Mau buka Google Docs sambil riset artikel di Wikipedia? Kalau di browser lain, kamu harus buka dua jendela terpisah dan diatur manual ukurannya.
Di Arc, cukup drag tab-nya, dan voila! Layar langsung terbelah dua (atau empat!). Fitur Split View ini native, ringan, dan bikin riset jadi super cepat.
4. Peek & Little Arc: Intip Tanpa Komitmen
Sering dapet link dari chat WhatsApp, diklik, eh malah nambah-nambahin sampah tab di browser utama?
Arc punya fitur Little Arc. Kalau kamu klik link dari aplikasi lain, dia bakal buka jendela kecil (floating window) cuma buat ngintip isinya. Kalau penting, bisa ditarik ke sidebar. Kalau gak penting, tinggal close (Command+W). Browser utama tetap rapi dan bersih dari tab sampah.
⚖️ Kelebihan (+) & Kekurangan (-)
Jujur aja, Arc gak sempurna buat semua orang. Ini plus minusnya:
Kelebihan (+):
- ✅ Basis Chromium: Jangan takut gak bisa pakai ekstensi. Semua Chrome Extensions (AdBlock, Grammarly, dll) bisa dipasang di Arc dengan lancar jaya.
- ✅ Manajemen Memori (RAM): Walaupun sama-sama Chromium, Arc punya fitur “tidur” otomatis buat tab yang jarang dibuka, jadi laptop kerasa lebih adem dibanding Chrome.
- ✅ Estetika Juara: Desainnya transparan (mica effect), modern, dan bisa ganti warna tema sesuka hati.
- ✅ Command Bar (Cmd+T): Navigasi gak perlu klik, cukup ketik (kayak Spotlight Search di Mac). Cepat banget!
Kekurangan (-):
- ❌ Learning Curve (Butuh Adaptasi): Minggu pertama pakai Arc pasti kagok. “Lho, tombol refresh di mana? Lho, tab gue kok ilang?”. Otot ingatan (muscle memory) kamu bakal dipaksa berubah.
- ❌ Windows Version Masih Beta: Versi Mac-nya udah sempurna, tapi versi Windows (per akhir 2025) kadang masih ada bug kecil walaupun udah stabil buat harian.
- ❌ Overwhelming: Buat orang tua atau pengguna yang gaptek, fitur Arc kebanyakan. Mereka cuma butuh “klik dan buka”.
💡 Tips Biar Gak Kaget Pas Pindah
Biar transisi kamu dari Chrome ke Arc mulus, coba tips ini:
- Import Data: Saat pertama install, Arc bakal nawarin import semua Bookmark dan Password dari Chrome. Klik YES aja. Jadi kamu gak mulai dari nol.
- Hafalkan Shortcut “Cmd/Ctrl + S”: Ini buat buka/tutup Sidebar. Kunci kenikmatan Arc ada di sini.
- Pinned Tabs: Tab yang sering dibuka (WA Web, Email, Calendar) tarik ke bagian paling atas (Pinned). Mereka bakal stay di situ kayak aplikasi mini, gak bakal ketutup gak sengaja.
🔗 Link Download
- Website Resmi: arc.net
- Platform: Tersedia gratis untuk macOS (Intel/M-Series) dan Windows 11.
- Mobile: Cari “Arc Search” di App Store / Play Store (Browser mobile-nya juga punya fitur AI Browse for Me yang keren).
🏆 Kesimpulan & Rating Kupas Abis
Review Arc Browser ini membawa kita pada kesimpulan: Arc adalah browser untuk orang yang ingin internetan dengan sadar (mindful).
Google Chrome itu ibarat pasar yang ramai dan berantakan. Arc Browser itu ibarat ruang kerja pribadi yang rapi, wangi, dan tertata. Apakah browser ini bikin laptop jadi roket? Enggak juga, mesinnya sama. Tapi dia bikin workflow kamu jadi jauh lebih efisien dan menyenangkan.
Kalau kamu kerja di depan laptop lebih dari 6 jam sehari (Desainer, Penulis, Programmer, Admin), WAJIB COBA ARC. Tapi kalau kamu cuma buka laptop seminggu sekali buat nonton drakor, Chrome atau Edge udah cukup.
Rating Kupas Abis:
⭐ 9.2/10 (Browser Paling Inovatif Dekade Ini).


