Kupas Abis – Halo sobat Kupas Abis! Siapa di sini yang udah bosen sama film horor yang cuma modal jumpscare kaget-kagetan? Kalau kamu nyari horor yang “nyeni”, gelap, dan romantis (dalam artian tragis), maka Frankenstein garapan Guillermo del Toro di Netflix ini adalah jawabannya.
Setelah sukses besar dengan Pinocchio dan The Shape of Water, sutradara jenius asal Meksiko ini akhirnya mewujudkan mimpi lamanya mengadaptasi novel Mary Shelley. Tapi pertanyaannya di Review Frankenstein kali ini: Apakah Oscar Isaac dan Jacob Elordi berhasil menghidupkan kembali legenda mayat hidup ini dengan rasa baru? Atau cuma sekadar daur ulang cerita lama? Siapkan mental, yuk kita bedah!
Trailer Frankenstein (2025)
Informasi Film
| Kategori | Detail |
| Sutradara | Guillermo del Toro |
| Cast Utama | Oscar Isaac, Jacob Elordi, Mia Goth, Christoph Waltz |
| Genre | Horror, Drama, Sci-Fi, Gothic Romance |
| Durasi | 2 Jam 15 Menit |
| IMDB Rating | 8.4/10 |
| Rotten Tomatoes | 90% Fresh |
| Platform | Netflix (Original Movie) |
Sinopsis Singkat
Cerita klasik yang kita tahu, tapi dengan twist emosional yang lebih dalam. Victor Frankenstein (Oscar Isaac), seorang ilmuwan jenius namun obsesif, berhasil “mencurangi” kematian dengan menghidupkan kembali sesosok Makhluk (Jacob Elordi) dari potongan mayat.
Namun, alih-alih bangga, Victor justru ngeri melihat ciptaannya sendiri dan membuangnya. Sang Makhluk, yang punya fisik mengerikan tapi hati yang polos, mencoba mencari cinta dan penerimaan di dunia yang kejam. Ketika dunia menolaknya, kepolosan itu berubah menjadi dendam yang membara terhadap “ayah”-nya, Victor. Ini adalah kisah kucing-kucingan antara pencipta dan ciptaan melintasi pemandangan Eropa yang dingin dan suram.
Review Lengkap & Analisa
1. Visual Gotik yang “Gak Ada Obat”
Kalau soal desain produksi, Guillermo del Toro emang rajanya. Jangan harap lab putih bersih ala sci-fi modern. Di sini, lab Victor penuh dengan mesin uap, cairan kimia berwarna aneh, dan nuansa steampunk yang kental. Setiap set lokasi, mulai dari kuburan berkabut sampai pegunungan es yang sunyi, direkam dengan sangat indah sekaligus mencekam. Monster-nya? Jacob Elordi didandani dengan prostetik praktis (bukan full CGI!) yang bikin dia terlihat rapuh, penuh jahitan, tapi tetap memancarkan aura manusiawi.
2. Adu Akting: Oscar Isaac vs Jacob Elordi
Oscar Isaac bermain brilian sebagai ilmuwan yang punya God Complex (merasa jadi Tuhan) tapi pengecut. Kita dibuat benci sekaligus kasihan sama dia. Tapi bintang utamanya jelas Jacob Elordi. Lupakan imej cowok ganteng di Euphoria, di sini dia bertransformasi total. Lewat erangan dan gerakan tubuh yang kaku, dia berhasil menyampaikan rasa sakit dari “dilahirkan” ke dunia yang tidak menginginkannya. Chemistry benci-rindu antara keduanya bener-bener intens.
3. Lebih Dekat ke Novel Aslinya
Berbeda dengan film-film Frankenstein lawas yang cuma fokus ke “Monster Jahat Bunuh Orang”, versi del Toro ini sangat setia pada inti novel Mary Shelley: Siapa sebenarnya monster yang asli? Apakah mayat hidup yang bingung, atau manusia yang menciptakannya lalu lari dari tanggung jawab? Dialog-dialognya puitis dan filosofis, mungkin agak berat buat penonton yang nyari aksi slasher cepat, tapi sangat memuaskan buat yang suka kedalaman cerita.

Kelebihan (+) & Kekurangan (-)
Kelebihan (+):
- Practical Effects: Desain monster menggunakan makeup asli, bukan kartun CGI.
- Atmosfer: Musik dan visualnya bikin merinding tapi betah nonton.
- Mia Goth: Tampil mencuri perhatian sebagai Elizabeth, tunangan Victor yang nasibnya tragis.
- Emotional Punch: Endingnya bakal bikin kamu termenung lama.
Kekurangan (-):
- Pacing Lambat: Babak pertengahan terasa agak dragging (bertele-tele).
- Terlalu Depresi: Film ini suram banget, minim humor, jadi pastikan mental lagi aman sebelum nonton.
Nonton Dimana?
Film ini tayang eksklusif di Netflix secara global. Wajib banget nonton di TV resolusi 4K dan sound system yang bagus buat dengerin detail suara “kriet-kriet” tulang dan badai saljunya.
Kesimpulan: Cocok Untuk Siapa?
Film ini adalah surat cinta buat penggemar Horor Klasik dan Sastra. Kalau kamu suka film The Shape of Water atau Crimson Peak, kamu pasti jatuh cinta sama film ini. Tapi kalau kamu nyari horor kaget-kagetan ala Conjuring, mungkin kamu bakal ngerasa ini terlalu “drama”.
Rating Kupas Abis:
⭐ 8.7 / 10 (Mahakarya Horor yang Mematahkan Hati 💔)
